Membongkar Kasus Bom di Indonesia

15 Apr

Foto: Vivanews

“Terorisme belum mati di Indonesia,” tulis Nasir Abas, bekas petinggi Jamaah Islamiyah dalam bukunya, ‘Memberantas Terorisme memburu Noordin M. Top.

Nasir Abas merampungkan buku itu persis saat Bom yang mengguncang Hotel JW Marriott, dan Hotel The Ritz Carlton, pertengahan Juli 2009 lalu.

Dua peristiwa tersebut, tak pelak langsung mendapat perhatian dunia internasional. Tim sepak bola dari Inggris, Manchester United terpaksa membatalkan kedatangannya ke Indonesia.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa perlu segera melakukan keterangan pers sesaat setelah kejadian.

Jum’at hari ini masyarakat Indonesia kembali dikejutkan oleh meledaknya bom di Masjid di Kepolsian Resort Cirebon. Sebelumnya teror bom buku menyerang ibukota. Serangkaian tersebut seolah menunjukkan keberadaan para teroris tersebut.

Polisi menjadi pihak yang paling dibuat sibuk dengan ulah para teroris tersebut. Sejak saat kejadian, Kepolisian segera menurunkan tim detasemen khusus anti teror, dan dari unsur laboratorium forensik guna melakukan olah tempat kejadian perkara.

Kinerja kepolisian dalam mengungkap kasus peledakan bom tak bisa diragukan. Berbagai aksi teror bom dan kerusuhan menggunakan bahan peledak berhasil diungkap oleh korps baju coklat ini.

Tengok saja kasus bom di Bali tahun 2002, Hotel JW Marriott 2003, depan Kedutaan Besar Australia 2004, serta berbagai rentetan bom selama kerusuhan di Poso, Sulawesi Tengah 2003 hingga 2006.

Prinsipnya, “Tidak ada pidana yang tidak meninggalkan bekas,” tulis Komisaris Besar Tito Karnavian dalam buku Indonesian Top Secret, Membongkar Konflik Poso.

Dalam buku setebal 552 halaman itu, Tito menyebut, pengungkapan kasus bom besar lebih mudah dibanding bom kecil yang terjadi secara sporadis.

Penyidikan menggunakan metode induktif. Yakni melakukan olah tempat kejadian perkara, serta mengumpulkan sebanyak mungkin alat bukti dan barang bukti. Teorinya semakin besar bom, akan banyak alat bukti dan barang bukti yang bisa ditemukan di TKP.

Penyidikan di TKP juga melibatkan unsur dari laboratorium forensik.

Komisaris Besar Amri Kamil, dalam bukunya Metode Identifikasi Berbagai Kasus Kejahatan, menjelaskan, petugas forensik akan mencari unsur-unsur kimia yang terkandung dalam bom. Hal ini diperlukan untuk menentukan jenis kekuatan bom, yang sangat penting dalam proses penyidikan.

Di TKP, petugas laboratorium forensik akan bekerja keras mencari sisa container, bahan peledak, switching, power, dan shrapnel untuk menentukan jenis atau kekhasan dari bom tersebut.

Jika sudah ditemukan kekhasan pada bom, penyidik akan bisa menentukan siapa atau dari kelompok mana pembuatnya. Sehingga penyidikan akan menjadi lebih terarah.

Metode ini bukan tanpa dasar. Tito dalam bukunya menyebut, keahlian membuat bom merupakan kemampuan spesialisasi yang penuh resiko kegagalan. Ada kecenderungan setiap pembuat bom akan membuat jenis sama dengan yang telah berhasil dia ledakan sebelumnya.

Tito mencontohkan, rakitan bom DR. Azahari yang sukses digunakan dalam peledakan di Bali tahun 2002, dia gunakan kembali dalam aksi di JW Marriott 2003, dan di depan kedutaan besar Australia 2004.

Hasil olah TKP menggunakan metode induktif ini kemudian dipadukan dengan hasil metode deduktif, yakni pengumpulan data jaringan pelaku yang paling potensial. Oleh karenanya, semakin besar ledakan dan makin sulit bom itu dibuat, akan semakin mudah menduga siapa pelakunya.

Buku Indonesia Top Secret, Membongkar Konflik Poso, sesuai judulnya menceritakan perjalanan tim Satuan Tugas Badan Reserse Kriminal, yang diketuai Tito Karnavian, selama mengungkap konflik kerusuhan di Poso, Sulawesi Tengah dalam kurun waktu 2001 hingga 2007.

Menceritakan dengan detail langkah-langkah dan strategi kepolisian selama menangani konflik berdarah di Poso. Proses penyidikan, pengolahan data, keterlibatan kelompok Jaringan Islamiyah, proses selama di pengadilan, serta upaya mendamaikan dua kelompok yang bertikai ditulis lengkap oleh Tito.

Ditulis dengan gaya bertutur yang lugas, tidak kaku, dilengkapi diskripsi dan data hasil operasi satgas Bareskrim. layak disebut sebagai buku investigasi.

Pada bagian akhir buku, dicantumkan testimoni para personil satgas, dari awal terlibat hingga akhir bertugas. Juga dari tokoh masyarakat. Kehadiran testimoni-testimoni ini tidak sejalan dengan judul buku, meski tidak mengganggu karena berada di bagian akhir.

Testimoni-testimoni khususnya dari para personil dan petinggi polri bisa saja dibuat dalam buku tersendiri. Sehingga menambah pengetahuan masyarakat tentang kinerja tim satgas dalam menyelesaikan konflik Poso.

Buku terbaru Nasir Abas, Memberantas Terorisme Memburu Noordin M. Top, sebagaimana buku-buku terdahulunya, banyak menceritakan tentang kelompok Jaringan Islamiyah. Pola pemikiran, metode perekrutan, serta karakter serangan kelompok JI.

Sebelumnya Nasir pernah menulis buku sejenis berjudul, Membongkar Jamaah Islamiyah (2005), serta Melawan Pemikiran Aksi Bom Imam Samudra dan Noordin M. Top.

Sementara Amri Kamil, perwira menengah dari Laboratorium Forensik Polri, menulis buku, Metode Identifikasi Berbagai Kasus Kejahatan.

Buku setebal 102 halaman ini banyak mengulas soal proses pemeriksaan forensik di TKP kejahatan, baik peledakan bom, penembakan, kebakaran, dan pemalsuan dokumen.

Pada bagian yang mengulas bom, misalnya, Amri menceritakan secara detail, tentang bahan peledak. Mulai dari jenis, bahan pembuatnya, hingga rangkaian bom. Selain itu juga dijelaskan proses pemeriksaan selama olah TKP ledakan bom.

Demikian juga dalam bagian pembahasan bencana kebakaran, surat pemalsuan dokumen. Proses olah TKP dilapangan hingga ke laboratorium dijelaskan secara gamblang. Pada tiap-tiap akhir bagian disertakan bagan alur kerja selama proses olah TKP yang berhubungan dengan forensik.

Selain itu, Amri juga menulis buku, Solusi Sikap Tanggap Mengatasi Ancaman Teror Bom di Sekitar Kita. Buku ini banyak menceritakan tentang teror yang selama ini sering terjadi di tanah air. Bagaimana seharusnya menghadapi ancaman teror bom yang selama ini disampaiakan melalui saluran telepon. Dia mengingatkan bahwa tak satupun teror yang terbukti. Kelompok teroris Noordin M. Top, tidak pernah memberikan ancaman sebelum melakukan serangan bom.

Hanya buku-buku Amri memiliki kelemahan dalam hal editorial. Dalam sampul memang tidak tercantum nama editornya. Banyak kalimat-kalimat yang semestinya bisa lebih baik seandainya buku ini mau menggunakan tenaga editor.

Dengan segala kelebihan dan kelemahan buku-buku tersebut layak dibaca oleh minimal pengamat intelijen, pengusaha jasa keamanan, anggota kepolisian, dan jurnalis.

Semoga peristiwa yang menyebabkan Kapolres Cirebon menderita luka serius ini menjadi teror yang terakhir.

Damailah Indonesiaku.
Erwindar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: