Oleh-oleh yang Tertunda

18 Des

antri menuju loket cek paspor. Bandara Doha, Qatar

Belum genap dua jam mata terpejam. Alarm kamar 439 Hotel Grand Regency Doha, Qatar berdenting. Jam menunjuk angka 4.30 waktu Doha. Pertanda aku harus segera berkemas. Suhu dinihari itu berada pada angka 15 derajat. Tapi harus nekat mandi. Perjalanan 9 jam, tak nyaman tentunya kalau tak mandi.

Pukul 5.45  aku sudah berada di lobi. Ada kendaraan carteran dari hotel yang akan mengantar ke Bandara. Tapi nanti jam 6.15. Wah, masih 20 menit. Pesawat Qatar Airways yang akan membawaku ke Jakarta take off pukul 8.50 waktu Doha. Boarding time jam 7.50. Perjalanan dari Hotel ke Bandara menurut sang petugas hotel memakan waktu 20 menit.

Artinya jam 6.45 saya baru sampai bandara. Hanya ada waktu 1 jam untuk mengurus tiket, boarding time, termasuk cek imigrasi. Menunggu mobil carteran yang disediakan hotel tentu bukan pilihan bijak. Setidaknya pilihan konyol kalau tetap aku memakainya.

Sahdan, detik itu juga aku minta resepsionis hotel untuk mencarikan taksi ke Bandara. Selamat, ada satu taksi dihalaman hotel. Disepakati tarif QR 50 atau Rp 120-an ribu. Baiklah daripada telat pesawat.

Jam 6.20 aku tiba di bandara.
Wow…negeri Qatar, calon tuan rumah piala dunia 2022 ini ternyata memiliki bandara yang semrawut, acak adul. Baru melangkah di pintu masuk saja , aku sudah bisa melihat ratusan penumpang berjejal di loket-loket penjualan tiket. –foto-foto sudah aku posting sebelumnya—.

Aku antri di loket Qatar Airways kelas ekonomi. Ada 10 orang di depanku. Sial…sepertinya mbak petugas di barisan antrianku ada masalah. Berbeda dengan loket-loket sebelaahnya. Butuh waktu lebih dari lima menit untuk satu calon penumpang. Itu artinya jam 7 saya baru mendapatkan tiket. Berdo’a. Hanya itu yang bisa dilakukan semoga semua lancar. Dan ada waktu buat beli oleh-oleh.

Jam 7.15 persis aku dapatkan tiket. Baru satu tahapan aku lalui. Tahap selanjutnya memasuki antrian pemeriksaan paspor. Anda boleh percaya atau tidak, antrian ini mengular, dan berkelok-kelok sepanjang tak kurang dari 1 kilometer. Karena hanya ada satu pintu untuk menuju loket pemeriksaan paspor. Bayangkan untuk jam yang bersamaan ada 9 penerbangan ke beberapa negara dalam waktu hampir bersamaan.

Pukul 8.00 persis aku lolos dari loket pemeriksaan paspor. Sambil mencari Gate 20, aku melihat-lihat kemungkinan ada toko untuk sekedar membeli oleh-oleh. Dusss….sial antrian di Gate 20 juga mengular. Tak ada waktu lagi buat sekedar membeli cinderamata, ataupun camilan untuk oleh-oleh.

Dan harapan membawa oleh-oleh itupun tertunda.

Salam Doha International Airpot, 16 Desember 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: