Tak Ada Palem dari Indonesia

16 Des

Tak Ada Palem dari Indonesia

Senin masih terlalu dini di Yas Island, Abu Dhabi. 13 Desember 2010. Jam 3 dinihari atau jam 6.30 pagi waktu Indonesia.

Mata sudah sulit terpejam. O.. Inikah yang namanya jetlag. Tetap aku usahakan untuk tidur. Bersyukur mata masih bisa diajak kompromi. Jam 5.50 waktu Abu Dhabi, mata sudah rewel. Minta melek. Ya sudah, setelah melepas semua ‘bala’ ke toilet, sholat, aku keluar. Mencari angin dan mencari kehangatan.

Semua mata pegawai hotel menyapa ramah. Yang tak menyapa memandangku. Wah, adakah yang salah dariku. Ah masa bodo, U gak kenal I ini.

Barulah sampai diluar aku sadar. Wow, dingin sekali. 18 derajat mungkin. Maksud hati cari kehangatan, justru kedinginan didapat. Pantas aja orang di dalam melihatkku dengan aneh. Bercelana pendek, kaos oblong berani-beraninya keluar.

Oke deh.. Jalan keluar mencari udara dengan sedikit mengigil. Persis di depan hotel ada sebuah jalan raya. Bisa jadi ini jalan utama. Disebarangnya ada Crown Plaza, Yas Marina Plaza, dan sebuah hotel dengan nama Arab. Aku lupa namanya.

Jalanan masih pagi. Sepi. Tapi lampu traficklight tetap rajin menyala bergiliran. Ada lima lajur dengan lima lampu merah.

Kendaraan, hanya 3 menit sekali lewat. Itupun rata-rata kendaraan pribadi. Wah, terus siapa yang menghuni bangunan megah di depanku. Tak perlu dipikirkan.

Kuajak kakiku berjalan menyusuri trotoar yang masih baru. Masih kinyis-kinyis. Kanan dan kiri tanaman perdu masih segar nan meranum. Ada palem, kamboja jepang dan banyak lagi.

Di sebuah perempatan berikutnya ada sekelompok pekerja yang sudah mulai mengeruk tanah. Meratakan taman. Ada juga dari arah berlawanan serombongan pria bersegaram biru mendorong tempat sampah. Ya istilahnya petugas kebersihanlah..

Melihat penataanya, kota ini agaknya menarik. Sebulan lagi mungkin tak kalah dengan taman-taman di jantung kota Abu Dhabi. Pada beberapa titik dilengkapi dengan bangku. Dipersiapkan untuk yang ingin menikmati indahnya taman kota. Kalau di RI bisa buat nongkrong.

Pada seorang mandor saya sempat ngobrol. Kebetulan dia bisa bahasa Inggris. Satu yang saya tanyakan, darimana pepohonan ini didatangkan?. Karena melihat struktur tanahnya, gak mungkin ada pengembangbiakan palem di sini.

“Thailand, Siangapure, and Malaysia,” kata Mandor bernama Saadat itu.

“Lho tak adakah yang dari Indonesia. Tempat kami banyak yang produksi dan memperbanyak tanaman seperti itu,” Tanya saya. Aku pikir Indonesia kan dekat dengan tiga negara itu. Dan banyak yang jualan lho.

Ada Rawa Belong, Senayan. Kalau ingin tanaman perdu bisa cari ke Puncak, atau Tawang Mangu. Kurang apalagi.

“Tidak ada, katanya tidak ada yang bisa menjamin pasokannya,” kata sang mandor.

Nah lo… moso, lha tempat saya banyak kalau cuma rumput-rumput kayak gini, alang-alang.

“Mosok gak ada yang bisa menjamin pasokanya,” pikirku.

Ya sud, ternyata memang gak ada Palem dari Indonesia.

Yang ada Opi, TKW dari Surabaya yang kerja di Saadiyat Beach Golf restoran..

Salam

Satu Tanggapan to “Tak Ada Palem dari Indonesia”

  1. Maskur 16 Desember 2010 pada 02:56 #

    Wah ini merupakan suatau kesempatan win

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: