Semalam di Qatar Airways

13 Des

Bunda, dan Najma melepas kepergianku di pintu pagar rumah, persis pukul 8 malam. Sengaja aku tak mau diantar sampai ke jalan raya. Aku tak mau air mataku tambah deras menetes.

Sabtu, 11 Desember 2010 malam itu aku harus berangkat ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Ditugaskan oleh kantor untuk memenuhi undangan dari General Electric.

Satu jam perjalanan dari Percetakan Negara, taksi ekspress yang saya tumpangi berhenti di terminal dua keberangkatan luar negeri. Setalah mengurus tiket, bagasi, dan segala urusan keimigrasian aku masuk tapi belum ke lounge. Masih diluar gate 4D.

Melihat-lihat buku di sebuah toko, -aku lupa namanya-. Hanya numpang baca cover beberapa buku. Tak sempat beli. Tak usah ditanya mengapa?.

Jam 11 malam, saya masuk ke lounge. Bayangan bahwa saya akan berada di pesawat yang berpenumpang orang asing semua tak terbukti.

Separuh orang yang duduk di kursi tunggu, wajahnya sangat familiar. -“Agraris”, mengutif istilah teman-teman untuk menyebut wajah –ndeso–. Meski -ndeso-, mereka adalah pahlawan devisa lho.

Tentu Anda tahu siapa mereka?. Rombongan ibu-ibu, perempuan muda yang mengadu nasib di negeri tetangga. Menjadi TKW di negeri Arab.

Lounge seukuran lapangan basket itupun ramai oleh celotehan bahasa khas pekalongan, Tegal, Sunda, bahkan Suroboyoan..

Karena mata sudah tak lagi kuat bertahan, aku tak ikut bergabung dengan ibu-ibu dan beberapa pemuda yang ngobrol itu.

Aku baru ngobrol dengan salah satu TKI saat di pesawat. Kebetulan disampingku duduk seorang TKW muda dari Banten.

Wajahnya tidak bisa dikatakan agraris. Malah cenderung kinyis-kinyis. Yah mirip sama Airin, -cawalkot Tangsel-. Wajar jika saya tak jadi ngantuk.

Namanya Neneng. Neneng bin Sukma. Asal Pandeglang Banten, Usia 35 tahun. Bercerai dengan suami 3 tahun lalu, karena dituduh selingkuh. Sudah punya dua anak. Malah yang pertama usianya 15 tahun. Ya Neneng nikah diusia yang agak muda, 19 tahun.

Bercelana jin ketat, sepatu hitam, baju kemeja putih dibungkus jaket jin dengan kerudung hitam. Wajahnya disapu bedak tipis, lipstik merah marun menghias bibirnya. Sayang matanya sembab, merusak keayuannya.

“Saya tak bisa ketemu dengan anak saya sebelum berangkat,” kata Neneng beralasan saat saya tanya penyebab matanya memerah. Yah, Neneng habis menangis selama perjalan dari tempat penampungan di Klender Jakarta Timur, sampai Bandara Cengkareng.

Neneng baru 2 tahun kerja di Dammam, Saudi Arabia. Itu dilakukan setelah sang suami menjatuhkan talak kepada dia. Hak asuh anak semua diminta suami. Hak bertemu anakpun dibatasi. Dua bulan di Banten, hanya 2 kali bertemu, itupun tak lama.

Merasa tak punya kegiatan, Neneng memilih ikut tetangganya ke Dammam tahun 2008.

Berita tentang kekerasan, pelecehan seksual yang selama ini menimpa TKI tak menyurutkan langkah perempuan bertinggi badan 162 sentimeter, dan lingkar pinggul 36 senti ini. Dan mungkin dia termasuk yang beruntung. Mendapat majikan yang baik.

Gajinya selama dua tahun dibayar penuh. Malah ditambah bonus satu bulan gaji. “Dua tahun bekerja saya pulang bawa Rp 45 juta,” kata janda dengan gaji 800 Riyal Saudi ini.

Tak sekalipun mendapat keekrasan fisik. Malah setiap dua minggu sekali ada jatah libur.

Obrolan kami sesekali disela suara ngapak-ngapak percakapan ibu-ibu sebelah. Nyaris semalaman aku tak tidur. Mendengarkan cerita sang Ibu itu.

Entah kecapekan atau kehabisan bahan, dia pun berhenti bercerita. Tapi mata saya terlanjur ngancil, gak bisa tidur. Untung ada fasilitas vidio. Film The Expendeble, dan Anjani-anjani mengantar ku mendarat di Doha International Airpot.

Neneng dan temen-temannya melanjutkan perjalanan ke Damman, dan aku ke Abu Dhabi. Tetap dengan Qatar Airways.

Salam
Abu Dhabi, 12 Desember 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: