Mengapa Pengrajin Enggan Mematenkan Motif Batik?

30 Nov

Salam sejahtera,
Maaf barangkali Anda saat ini tengah sibuk membahas soal perseteruan Sultan Yogya dengan SBY. Sy tak ingin larut dalam masalah itu.
Saya tertarik dengan timeline di twitter yg di RT @arijuliano. Berbicara soal banyaknya motif batik yang tidak memiliki sertifikat hak atas kekayaan intelektual.

Suatu hari saya pernah wawancara beberapa bos batik, yakni Bos Parang Kencana, dan Batik Danar Hadi. Kebetulan keduanya wanita.

Keduanya mengaku motif-motif batik yang mereka buat, sengaja tidak dipatenkan. Atau diurus HaKinya ke Dirjen Haki Kementrian Hukum dan Ham. Salah satu alasannya, ruwetnya birokrasi. —yah tau lah bagaimana—.
Belum lagi waktu untuk mendapatkan sertifikat itu. Pengalaman mereka, u/ mendapat Haki minimal butuh 2 tahun.
Sementara dalam kurun waktu itu, motif mereka sudah dijiplak oleh ribuan ‘pngrajin’ lainnya.
Tenaga yg digunakan u/ mengurus HaKI tak sebanding dengan hasilnya.
Jangan lupa, plagiat motif batik bisa menggunakan berbagai akal agar tidak dituduh menjiplak. Misalnya, motif flora yg aslinya berdaun 4 mereka ganti dengan berdaun 3: Tak bisa dikatakan mereka melanggar HaKI.
“So, daripada ngurus HaKI lebih baik tenaga dicurahkan u/ desain motif baru”, kata salah satu bos batik itu.

Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: