Kritik Hatta untuk SBY-BOEDIONO

14 Nov

Tersihir Hatta

Setelah sebulan mangkrak, buku kumpulan 4 Serangkai Pendiri Republik itu akhirnya tersentuh juga pekan lalu. Berisi riwayat empat orang yang terlibat dalam sejarah berdirinya Negara Indonesia. Seokarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka.

Seri buku ini merupakan kumpulan Edisi Khusus Majalah Berita Mingguan Tempo yang kemudian oleh Kelompok Penerbit Gramedia dibukukan.

Riwayat Sjahrir, dan Tan Malaka sedikit banyak saya sudah tahu. Karena terbit setelah saya diterima di Tempo. Seri Seokarno dan Hatta yang tentunya saya dahulukan karena terbit saat belum bergabung di Tempo.

Cerita tentang Soekarno jujur, tak ada yang istimewa. Selain memang sudah banyak buku yang menulis sepak terjangnya. Saya juga menganggap Soekarno hanya seorang yang ahli berpidato. Satu yang tidak saya ketemukan di buku lain adalah tentang istri Soekarno yang terakhir, yakni Heldi Jafar. Mantan anggota Paskibraka yang dinikahi Soekarno menjelang kejatuhannya.

Menginjak buku yang kedua. ”Hatta, Jejak yang Melampaui Zaman”. Merinding, bahkan sejak membaca judulnya. Bisa ditebak bahwa Hatta, adalah pengejawantahan dari ’Joyoboyo’, seorang tokoh yang oleh masyarakat jawa dianggap sebagai peramal masa depan. ’Weruh sak durunge winarah’, Mengatahui apa yang bakal terjadi dimasa yang akan datang.

Malam ini saya baru membaca sampai bagian pertama, setelah bagian surat untuk Bung Hatta ayanag ditulis oleh mas Goenawan Mohammad. Bagian pertama ini berjudul Tamasya Sejarah Bersama Hatta.

Membaca kalimat pembuka dari bagian ini, saya merasakan bahwa sosok Hatta belum meninggal. Dia masih ada dan mengamati setiap peristiwa yang terjadi di tanah air.

Berikut saya cuplikan sebuah tulisan Hatta yang terbit pada tahun 1962 seperti ditulis dalam buku Hatta edisi Tempo.

”Di mana-mana orang merasa tidak puas. Pembangunan tak berjalan sebagaimana mestinya. Kemakmuran rakyat masih jauh dari cita-cita, sedangkan bilai uang makin merosot.
” Perkembangan demokrasi pun terlantar karena percekcokan politik senantiasa. Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah. Tentara merasa tak puas dengan jalannya pemerintahan ditangan partai-partai.”

Entah kebetulan atau tidak. Entah apakah memang situasi antara dahulu dengan sekarang ini sama. Atau karena memang Hatta telah memperikarakan apa yang bakal terjadi puluhan tahun setelah kepergiannya. Entahlah..

Yang pasti apa yang ditulis Hatta itu masih relevan untuk saat ini. Tulisan yang bisa membuat para pemimpin di negeri ini introspeksi diri. Membuka kembali nasihat-nasihat Hatta untuk negeri ini.

Saya memang belum membaca buku ini secara utuh. Terlanjur tersihir oleh kalimat pembuka di bagian pertama buku tentang Hatta.

Bagaimana menurut Anda?

Salam

http://www.waroengbhatik.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: