Ciri ciri Batik Cina

3 Nov

Pernahkah Anda membeli batik dengan harga Rp 20 ribu? Atau paling tidak menemukan batik seharga itu? Bukan batik anak-anak, tapi untuk dewasa.
Saya pernah. Kira-kira dua setengah tahun lalu. Persisnya di pasar klewer, Solo. Di sebuah lapak di pinggir lapangan alun-alun utara kraton Solo. Iseng-iseng sambil menunggu istri dan anak yang mau belanja oleh-oleh untuk teman-teman di Jakarta, saya melihat-lihat beberapa lapak.
Tanpa sengaja ada dua kemeja batik yang memikat hati. Motifnya, campuran antara parang rusak, flora, ada juga gambar hewannya.
Saya pikir itu harganya minimal Rp 50 ribuan. Ternyata, “Dua puluh ribu mas,” kata si penjual sebelum saya tanya berapa harganya. Saya tawar dua, tiga puluh ribu. “eh dikasih,”.
Di perjalanan saya tunjukan ke istri saya. Yah karena selera kami berbeda, dua kemaja itu menurut dia biasa saja. Ya sudah lha wong dua cuma tiga puluh ribu.
Nah yang saya kaget, bagaimana mungkin ada batik dengan harga begitu murah. Meski batik cetak sekalipun. Biaya kain, biaya cetak, biaya potong dan biaya jahit? Tak bisa saya bayangkan.

Belakangan muncul isu adanya batik Cina yang membanjiri pasar Indonesia. Meski keran perdagangan bebas Asia – Cina belum dibuka, namun barang dari negeri tirai bambu itu telah masuk tanah air.
Keunggulan mereka, jelas … harga jual yang sangat murah mulai Rp. 25.000,- – Rp. 30.000,- untuk satu potong baju atasan.

Jangan harap dengan harga segitu Anda bisa mendapat batik dengan kualitas bagus. Permasalahanya bagaimana kalau ternyata batik Cina yang katanya palsu itu dijual dengan harga sama dengan harga batik asli Indonesia? Apakah Anda bisa mengenalinya?

Nah dari beberapa diskusi, dan riset ada beberapa hal yang bisa kita perhatikan untuk membedakan batik Indonesia dengan batik palsu dari Cina.

Ciri Batik palsu dari Cina:
1.Motif dan model hampir mirip dengan batik Indonesia, baik solo, pekalongan maupun cirebon. Hanya corak batiknya cenderung kusam;
2.Warna batik cenderung warna-warni ada hijau, biru, coklat, merah dan ungu;
3.Motif batik yang banyak dijual di pasar cenderung kontemporer (tidak jelas bentuknya) dengan pola dasar kotak-kotak atau seperti paduan kotak-kotak kain perca ukuran besar;
4.Tarikan garis dan pengisian warna pada disain cederung miss-print/bergeser dari pola dasar. Jika tidak teliti Anda bisa mengira bahwa itu batik tulis;
5.Ada pula yang motifnya menyerupai motif lokal, tapi paduan warna batik Cina cenderung kurang harmonis;
6.Harga cenderung lebih murah secara ekstrim ketimbang produk asli dalam negeri;

Mengutif Edward Hutabarat, hanya pengetahuan akan kekayaan budaya negeri sendirilah yang dapat memastikan dan membantu kita untuk membedakan antara batik asli Indonesia dengan batik palsu buatan Cina.
Maka, kata Ali Markus, “Cintailah pluduk-ploduk Indonesia,”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: