Buku-buku Yang Sempat Dilarang

14 Okt

Jika masih hidup, Mas Marco Kartodikromo mungkin akan heran. Di jaman kemerdekaan, dan bahkan alam demokrasi seperti sekarang ini masih terjadi pembredelan terhadap sebuh karya ilmiah berupa buku.

Di jaman penjajahan, wartawan yang hidup pada kurun waktu 1890 – 1935 itu, buku-bukunya banyak dibredel pemerintah kolonial Belanda. Tak cukup dibredel, pria kelahiran Cepu, Blora, Jawa Tengah ini sempat mengalami hidup di pembuangan.

Sejarawan Bonnie Triyana, mengatakan pelarangan buku di Indonesia adalah cerita lama. Sudah terjadi sejak jaman penjajahan Belanda. Sebuah ciri congkaknya kekuasaan dan hasrat penguasa untuk jadi penafsir tunggal sejarah.

Sayangnya begitu merdeka, Indonesia tetap mewarisi budaya anti demokrasi itu. Pembredelan berlanjut di jaman Soekarno, kemudian Soeharto.

Memasuki era reformasi, sempat tidak ada pembredelan selama beberapa tahun. Namun muncul lagi pada tahun 2006, saat Kejaksaan Agung melarang beredar buku sejarah yang tidak mencantumkan akhiran “//PKI//”.

Deputi Direktur Program Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat Indri D. Saptaningrum, mengatakan buku-buku yang dibredel, baik pada jaman kolonial, orde lama, orde baru, maupun orde reformasi memiliki pola yang sama. Bila dikelompokan, buku-buku yang dilarang pemerintah ada tiga kategori. Masalah kebebasan beragama, aliran yang dianggap kiri, dan gerakan sparatis.

Berikut, buku-buku yang pernah dilarang di Indonesia.

Jaman Kolonial Belanda
– Kitab Sabil Al-Muhtadin, karya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari
– tudent Hidjo, karya Marco Kartodikromo tahun 1919
– Rasa Merdeka, karya Marco Kartodikromo tahun 1924
– Hikayat Kadirun, karya Semaun tahun 1927

Orde Lama, Era Soekaro.
Tak kurang dua ribu buku dibredel pada jaman ini. Diantaranya:

Sapta Darman, karya Muhamad Yamin; Jejak Langkah, Penulis Bakrie Siregar; Saijah Adinda, Penulis Bakrie Siregar; dan Hoa Kiau, karya Pramoedya Ananta Toer

Zaman Orde Baru

Di jaman orde baru, tercatat paling banyak kasus pembredelan buku.

Pada era ini buku-buku karya Pramodya Ananta Toer paling banyak dibredel, karena dituduh terkait komunis dan marxist. Yakni Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca, Arus Balik, Di Tepi Kali Bekasi, Perburuan, Keluarga Gerilya, Percikan Revolusi, Subuh, Bukan Pasar Malam, Mereka yang Dilumpuhkan, Cerita dari Blora, Korupsi, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Memoar Oei Tjoe Tat, dan Cerita dari Jakarta.

Selain itu masih ada buku:
Buku Putih Perjuangan Mahasiswa Indonesia, KM ITB 1979, karena dinilai Menyudutkan pemerintah.
Di bawah Bendera Revolusi
Sum Kuning, terkait kasus pemerkosaan penjual telur
Indonesia di bawah Sepatu Lars, karya Sukmadji I Tjahjojo
Menuntut Janji Orde Baru
Adik Baru, Cara Menjelaskan Seks kepada Anak
Ketika penumpasan G30S/PKI, sekitar 2000 judul buku yang dilarang karena terkait Komunis dan Marxist.
Bertarung demi Demokrasi
Kasih yang Menyelamat-kan
Dosa dan Penebusan Menurut Islam dan Kristen
Serat Darmogandu, Ronggowarsito, terkait SARA
Suluk Gatoloco, Ronggowarsito, terkait SARA dan Menyesatkan
Cina, Jawa, Madura, Dalam Konteks Hari. Penulis Chosni Herlingga
Resume Hasil Observasi Peradilan Kasus Aceh. Penulis; AH Garuda Nusantara
Sebuah Mocopat Kebudayaan Indonesia. Penulis Joebaar Ajoeb

Madame Syuga, Buku ini dianggap mengeksploitasi tubuh Dewi Soekarno secara gamblang.
Program Kerja Kristenisasi di Indonesia
Sajian Tuntunan Tuhan pada Jaman Akhir, Haswir/Suharno
Painting in Islam, SARA (melecehkan Islam)
Dosa dan Penebusan Menurut Islam dan Kristen, terkait SARA.
Kristus Dalam Injil dan Al Quran, terkait SARA
Mujarobat Ampuh,HM Qori, terkait SARA
Menyingkap Sosok Misionaris, Penulis Ibrahim Sulaiman Al Jabhani, terkait SARA
Primadosa, dan Rakyat Indonesia Mengingat Imperium Suharto.
Thoha dari Radio,Unisi Yogyakarta dan Seminar di UGM
Apakah Soeharto Terlibat Peristiwa PKI, terkait menghina presiden
Bayang-bayang PKI (1995),Isntitut Studi Arus Informasi, terkait komunis
Islamic Invation Robert Morey
Bayang-Bayang PKI, Imran Hasibuan, Togi Simanjuntak
Peristiwa 27 Juli, ISAI

Orde Reformasi.

– Atlas West Irian, dilarang karena memuat gambar bintang Kejora.
– Kutemukan Kebenaran Sejati dalam Al-Qur`an, M Simanungkalit dilarang karena dianggap mengganggu ketertiban masyarakat.
– Terdapat 13 judul buku sejarah dari 10 penerbit yang dilarang.
– Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat, Socratez Sofyan Yoman.
– Dalih Pembunuhan Massa Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, John Rosa
– Suara Gereja bagi Umat Tertindas Penderitaan Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri Cocratez Sofyan Yoman
– Lekra Tak Membakar Buku, Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan
– Enam Jalan Menuju Tuhan karangan, Darmawan
– Mengungkap Misteri Keberagaman Agama, Syahrudin Ahmad

Bahan Diolah berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: