Berharap Habis Utang tanpa Bayar

14 Okt

Terbunuhnya Irzen Okta mengingatkan kami atas sebuh tulisan yang dimuat di Koran Tempo. akhir tahun 2008.
Kami postingkan kembali sebuah tulisan soal kartu kredit.


Layanan jasa penghapusan utang marak. Janjinya manis sekali.

Lelaki berambut gondrong dan berkumis tebal itu mengejar seorang perempuan. Hanya dalam beberapa langkah saja, si lelaki itu berhasil mencegat perempuan yang tak sadar tengah dikuntit itu. “Bu, gimana pembayarannya? Utangnya harus dibayar,” ujarnya dengan nada tinggi.

Yang diajak bicara malah membalas dengan nada tak kalah galak, “Pokoknya tidak akan bayar, dananya tidak ada.” Astrid, perempuan yang dikejar lelaki gondrong itu, malah menantang. “Biar Bapak bawa teman yang banyak, saya juga tidak peduli. Pokoknya tidak ada pembayaran!” Bentakan itu manjur. Lelaki penagih utang kartu itu enyah dengan tangan hampa.

Bagi Astrid yang tak punya kartu kredit itu, berhadapan dengan debt collector alias penagih utang sudah jadi pekerjaannya sehari-hari sebagai asisten pengacara di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ningrat yang berkantor di sebuah pusat pertokoan di Jakarta Selatan. Kantor advokat tempat Astrid bekerja itu menawarkan jasa bagi para nasabah kartu kredit yang terbelit utang dan mulai disatroni penagih utang. Menurut Astrid, kantornya bisa membantu kliennya yang terbelit utang kartu.

Layanan jasa seperti yang ditawarkan oleh kantor Astrid itu sedang marak sejak tiga tahun lalu. Meski kebanyakan penyedia jasa ini memperkenalkan iklan baris atau maksimal iklan mini, tentu tawarannya sangat menarik.

Begini bunyi iklannya: “Anda bermasalah dengan kartu kredit? Stres dikejar kolektor? Ingin bayar sesuai dengan kemampuan? Atau tidak mau membayar karena sesuatu hal? Proses secara hukum.” Bayangan, bebas utang yang mencekik dan lepas dari rongrongan penagih utang yang sangar tentu sangat melegakan pengutang.

Menurut Elyasa Budiyanto dari Kantor Hukum Elyasa & Associates, respons masyarakat terhadap layanan jasa penyelesaian sengketa kredit ini lumayan tinggi. Meski tak punya data, Elyasa mengatakan, peminatnya terus bertambah karena bank cenderung mudah menerbitkan kartu kredit. Terkadang bank mengabaikan peraturan Bank Indonesia tentang manajemen risiko dan surat edaran BI tentang perlindungan nasabah dan kehati-hatian bank penyalur kredit.

Aturan itu melarang nasabah memiliki lebih dari dua kartu kredit dan hanya diberikan dengan syarat penghasilan tertentu, tapi itu tidak diindahkan. “Tak perlu apply, malah ada yang langsung diantar ke rumah,” ujar Elyasa di kantornya di Jakarta Pusat, Kamis lalu. Saking mudahnya, satu orang bisa punya lima bahkan lebih dari 10 kartu kredit.

Di sisi lain, bank menentukan tingkat suku bunga secara sepihak dan tak mau tahu ketika nasabah terbebani tagihan dan bunga. Tak jarang, bank justru menggunakan jasa penagih utang untuk mendatangi nasabah. “Nasabah yang tidak kuat bisa stres,” kata Elyasa.

Bagaimana kantor hukum membereskan utang kliennya? Astrid menjelaskan, kantornya tidak menalangi tagihan, tapi memberikan konsultasi bagi nasabah dan mengurusi semua persoalan dengan penerbit kartu kredit. Klien akan dibekali surat keterangan yang diklaim Astrid ampuh menangkal penagih utang.

“Dengan surat kuasa itu, debt collector tak bisa menagih.” Kalau penagih masih ngotot dan sampai mengancam si pengutang, staf LBH akan datang menemani kliennya, bahkan membantu menyeret mereka ke kantor polisi.

Akan halnya Elyasa, mengupayakan mediasi antara nasabah kartu kredit dan bank. Kliennya yang nasabah kartu kredit tetap diharuskan membayar, tapi sesuai dengan kemampuan finansialnya, bukan berdasarkan kredit yang macet. Memang, ada yang mendapat keringanan hingga 70-80 persen dari jumlah kredit macet, tapi itu ditentukan setelah melihat kondisi finansial nasabah.

Elyasa mengaku selalu menyelesaikan kasus utang macet via kartu kredit itu melalui jalur nonlitigasi karena bank biasanya enggan memilih jalur litigasi. Bahkan beberapa bank memilih langsung berhubungan dengan nasabah yang bermasalah dan memberi keringanan.

Meski banyak yang meminta bantuannya, Elyasa mengaku tak mudah menerima. Ia akan mempertimbangkan penyebab macetnya dan berapa lama nasabah menggunakan kartu kredit. “Kami angkat tangan kalau baru memiliki kartu kredit satu-tiga bulan lalu datang pada kami.”

Selain melalui cara mediasi atau cara yang digunakan oleh Astrid cs. masih ada cara lainnya. Tengok saja pengalaman Rana yang pusing lantaran tagihan enam kartu kreditnya. Penduduk Bekasi ini pernah menghubungi nomor telepon yang tertera di iklan sebuah
kabar yang menawarkan “jasa konsultasi keuangan”. Penjawabnya mengatakan sedang sibuk, tapi pesan pendek mampir ke ponselnya. Isinya: “Berdasarkan penerawangan saya, Anda memang memiliki masalah keuangan yang berat.”

Pengirim pesan itu mengatakan jin miliknya akan membantu melepaskan aura buruk yang menghambat rezeki Rana. Rana diminta datang ke tempat prakteknya dengan membawa sebutir telur ayam kampung dan uang. Selain itu, Rana juga harus melakoni beberapa hal di rumah selama dua hari. Tak satu pun diturutinya. “Ngeri saya,” kata Rana sambil tertawa.

Penyelesaian utang dengan mengurangi, merestrukturisasi, atau menghapuskan utang, kata Astrid, tidak akan merugikan bank, karena bentuk kredit ini dijamin asuransi. Tapi ini bukan tanpa konsekuensi. Klien, kata dia, akan masuk daftar hitam sehingga akan kesulitan mendapatkan kartu kredit dan beberapa jenis pinjaman bank. Selamanya? Astrid mengatakan, masa berlaku daftar hitam itu hanya satu setengah tahun.

Klaim ini dibantah Dodit W. Probojakti dari Dewan Eksekutif Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI). “Itu bohong besar.” Dia menyatakan tidak pernah ada asuransi terhadap tunggakan kartu kredit. Yang ada hanya asuransi jiwa nasabah yang preminya ditagih per bulan di luar tagihan pemakaian kartu.

Dodit menjelaskan, setiap bank memang memiliki dana cadangan agar tak rugi jika ada kredit macet. “Tapi jika dibilang ada asuransi, itu bohong besar.” Ia juga membantah adanya penghapusan tagihan yang tertunggak. “Utang tetap harus dibayar!”

Sepak terjang bisnis kredit macet ini membuat AKKI gerah. Dodit mengaku sudah meminta bantuan asosiasi advokat di Jakarta, Bandung, dan Surabaya untuk membantu mencegah praktek yang, menurut dia, akan merugikan nasabah.

“Kasihan mereka sudah bayar fee, ujung-ujungnya kami tetap menagih mereka karena utangnya tetap dianggap belum lunas,” ujarnya. Ia menambahkan, selama tunggakan masih ada, maka nama nasabah akan tetap berada dalam dua daftar pemegang kartu bermasalah, yakni Sistem Informasi Debitor Bank Indonesia dan Negative List AKKI

Menurut Dodit, nasabah yang punya kesulitan keuangan, baik yang sementara maupun yang permanen, bisa mendapat keringanan pembayaran. Namun, ia meminta permohonan keringanan itu disertai bukti seperti total tagihan dari kartu kredit dan produk pinjaman lain serta alokasi uang pesangon jika nasabah mengalami pemutusan hubungan kerja. “Tapi nasabah harus jujur dan bukti juga harus kuat,” ujarnya.

Diakui Dodit, dalam mengurus keringanan ini, nasabah berhak didampingi pengacara. Dia menyarankan agar nasabah mengurus sendiri ke penerbit kartu dan tidak menyerahkannya ke pihak lain, sebab banyak contoh nasabah yang terus ditagih utangnya. “Sudah banyak contoh yang kehilangan kambing malah jadi kehilangan sapi.”

OKTAMANDJAYA WIGUNA | ERWIN DARIYANTO

19 Tanggapan to “Berharap Habis Utang tanpa Bayar”

  1. andri 29 Desember 2010 pada 09:51 #

    PENGACARA DI LAWAN PAKE PENGACARA LG BU NTAR SY BANTUIBU Y BIAR SY YG HADAPI ORANG SREM !!!ITU!!DI JAMIN
    HUB 022 920 97 260 ANDRI M SY PUNYA ORANG POLDA TENAG AJ!!!OK

  2. Ahmad 5 Mei 2011 pada 15:08 #

    Kantor elyasa budiyanto di jakarta sudah tutup, nasabah kartu kredit yang sudah bayar fee pengacara ke dia cuma bisa gigit jari, udah bayar fee tapi tetap ditagih ama bank. Rusli dkk kabur semua. Tinggal nasabahnya yang ngurus sendirian dgn tagihan yg membengkak

    • waroengbhatik 19 Mei 2011 pada 15:20 #

      terimakasih atas infonya..

    • rahma 15 Juni 2011 pada 16:08 #

      sy termasuk yg ditipu sm rusli dkk,,….BANGSAT SIALAN….SEMUA

    • Lia 28 Oktober 2011 pada 10:30 #

      iyah bagaimana nih?, sudah bayar fee nyatanya collector tetep datang nagih berkali2, Rusli dkk ga ada tanggung jawabnya! ga bs di percaya neh, ga bs selesai urusannya!

  3. Dewi 23 Juni 2011 pada 16:42 #

    Bulan Februari saya masih kekantor Elyasa Budiyanto dan meminta bantuan mereka. Alamat kantor yang saya datangi dan alamat di kop surat berbeda. Saya kemaren diminta transfer ke rek mereka untuk pelunasan setelah 5 bulan menunggu agar pihak citibank memberikan disc (Padahal awal mereka bilang saya sendiri yang langsung menyetor ke pihak citibank) Tetapi saya bersikeras menyetor uang sendiri langsung kecitibank. Sayangnya mereka sepertinya keberatan saya ikut ke citibank bersama mereka dengan alasan nanti pihak citibank akan mempersulit. saya.

  4. Maxi selalu Objektif 7 Juli 2011 pada 16:28 #

    Saya salah seorang yang sudah diurus oleh pihak lawyer Ellyasa B. saya justru sangat simpatik dalam pnanganan urusan hutang kartu kredit saya. dan bukan saya berlebihan memberikan pujian kepada Lawfirm Ellyasa B. tetapi pada faktanya, hutang saya bisa selesai dengan salah satu Bank Asing di Jakarta, dari tagihan bank sebesar Rp. 50 juta dari limit saya sebesar Rp. 48 juta bisa saya selesaikan diangka 27 juta (LUNAS) dan saya dapat Surat pelunasan Resmi dari Bank Terkait.

    Untuk urusan penanganan Debt Collector, setiap saya didatangi oleh pihak Debt Collector, saya cukup bilang ke collector bahwa saya sudah ditangani dengan pihak pengacara. cukup saya bilang begitu, debt coll sudah tdk datang lg kepada saya sampai saya dapat melunasi hutang kartu kredit saya itu. Artinya, dalam penanganan collector sangat bagus.

    mengenai transfer ke pihak pengacara, tentunya setelah menandtangani Surat kuasa untuk pelimpahan pengurusan masalah hutang kartu kredit, seharusnya kita sebagai klien mesti percaya dengan kuasa yang kita berikan kepada pengacara. jika tidak ada kepercayaa, suatu perjanjian (Surat Kuasa) tidak mungkin terjadi. Jadi, apabila sudah dipercayakan kep pihak Lawyer, maka tidak usah ragu lagi mempercayakan sepenuhnya kepada lawyer anda sampai selesai seperti saya.

    kalau menurut asumsi saya, komentar2 yang cenderung diskriminatif itu merupakan suatu pembusukan karakter yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak suka dengan kehadiran Pengacara yang menghandle permasalahan hutang kartu kredit.

    menanggapi pemberitaan diatas dengan komentar Dodit W. Probojakti dari Dewan Eksekutif Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI), saya malah ingin berbalik bertanya kepada anda, Bagaimana dan dari Dana sektor mana yangg diperuntukkan ‘Penyehatan Bank atas Kredit Macet (Kartu Kredit)???
    Karena, setau saya, Bisnis kartu kredit yang diterbitkan oleh Perbankkan Indonesia, pastinya sudah mendapatkan Garantie atau Recovery dari Bank Indonesia.

    Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi Collapsnya bank dalam menerbitkan Kartu Kredit atau KTA dalam Basic Finance Perbankkan.

    Kalau Pernyataan anda diatas dengan tidak adanya pergantian recovery dari Bank Indonesia dari Perbankkan yang menerbitkan kartu kredit/KTA, pastinya sudah berapa banyak Bank yang rugi dalam bisnis kartu kredit dan tentunya bank tidak akan menerbitkan lagi peminjaman dalam bentuk Kartu Kredit atau KTA.

    • gentur 19 Oktober 2012 pada 14:12 #

      saya menggunakan jasa pengacara bukan untuk tidak membayar tagihan, hanya untuk berunding dengan fihak bank, tapi nyatanya fihak bank melalui debt collectornya tetap saja melakukan teror dan intimidasi, baik fihak debt collector, bank dan pengacara tidak mau saling bertemu untuk bernegosiasi, terus apa gunanya pengacara ???? ketika saya tanyakan ke pengacara mereka bilang itu resiko yg harus dihadapi orang yg punya hutang, sama sekali pengacara tidak membantu !!!!! sudah lebih dari 2 th saya berjuang sendiri menghadapi DC

  5. echa 14 Juli 2011 pada 12:26 #

    ibu dewi, bagaimana dengan kelanjutannya dari permasalahan ini ? apakah sudah selesai hutang2nya…? karena saya juga sedang dalam penanganan elyasa budiyanto ini, mohon masukannya. thanks

    • Lutfi Akhmad 20 September 2011 pada 14:55 #

      saya juga berencana ke pengacara elyasa, bagaimana ya??? mohon pencerahannya. Ibu echa bagaimana statusnya sekarang?

    • sie 21 November 2011 pada 09:04 #

      Bu Echa, untuk ibu sendiri bagaimana ?? karena saya masih dalam proses di Elyasa Budiyanto dan kok kayaknya tidak ada kejelasan sama sekali, informasi yang saya dapat selalu simpang siur. padahal saya tetap punya itikad baik untuk menyelesaikan ini. DC pun selalu mendatangi saya. kalau ibu bagaimana dengan DC dari pihak bank ??
      Mohon informasinya biar saya pun tau dan jelas dengan kondisi rekan lain dalam penanganan elyasa B.
      terima kasih.

  6. kris 24 Oktober 2011 pada 15:47 #

    ibu Echa sendiri bagaimana untuk penanganan masalah kartunya,apakah sudah terselesaikan atau blum.Untuk debtcollector apakah masih datang ke rumah setelah ditunjukkan surat kuasa?

  7. eddy 10 November 2011 pada 15:20 #

    saya juga salah satu pengguna jasa lawyer ellyasa .dan 2 kartu saya sdh terselesaikan dan sdh dpet surat lunas nya langsung dari bank.mungkin saya salah satu termasuk yg beruntung karena benar2 di urus dan diselesaikan sesuai kesepakaatan

    • Yoshinaga 4 Juni 2012 pada 17:01 #

      Bpk Eddy..boleh tau hutangnya berapa pak? lalu, bayar jasanya kpd Elayasa brp persen?

  8. kris 28 November 2011 pada 16:05 #

    bapak eddy dulu ditangani dengan siapa ya?dan butuh waktu berapa lama dr tanda tangan surat kuasa ke lawyer sampai deal dengan pihak bank.trima kasih.

  9. Monica 7 Maret 2012 pada 16:42 #

    Wah.. kalo saya pengalamannya buruk.
    Marketing nya namanya Rianti, no hp nya 0815-10666064 dan 021-99331893. Trs bagian penanganan ke Bank namanya Andre… mereka iya2 aja kalo saya tanya gimana urusannya. Akhirnya semua menghilang. Untung ada DC yang baik yang hub saya dan cerita kalo kaya gini nih tipuan halus. Bayangkan saja.. kita suruh nunggu 6 bulan (dimana SID BI pasti udah kolek 5 – PARAH – GAK AKAN BISA DAPET KREDIT APAPUN DIMANAPUN), trus kan ada bunga tuh… diskon tagihan paling 30% – 50% max. Tapi sama aja karena dalam 6 bulan kan ada denda dan bunga berbunga.. Sama aja toh? Karena diskon tuh diitung dari tagihan terakhir yang kita gak bayar2…
    Coba deh pikirkan lagi… better dateng ke Bank nya trus ngmg kita masalahnya apa… itu jauh lbh baik… untung saya gak lama2 urusannya… Thanks GOD deh…

  10. Edo 18 Mei 2012 pada 16:46 #

    Elyasa Budiyanto & Ass, ada beberapa manegemen dan kantor, untuk yang yang di Jl. Rd. Raden Saleh No. 14 A lt. 2, Cikini Jakarta Pusat sejak tahun 2007 sampai sekarang masih melayani dan mengurus klien2 kartu kredit yang mau menyelesaikan ke pihak bank, dan sampai saat ini masih tetap di jl raden saleh no 14a lt 2 tersebut, tidak pernah pindah dan ganti no telp., maka kami dari Managemen Rd Saleh kantor Elyasa Budiyanto menyampaikan,bagi semua klien yg di urus di Mangemen Rd Saleh dan hendak menyelesaikan kepada pihak bank2 harap datang dan bertemu dengan CA masing2 dan atau bertemu dengan Lawyer nya langsung. Mksh

  11. yang pernah tertipu olehnya 26 Juli 2012 pada 12:03 #

    ELYSA BUDIYANTO & ASSOCIATES, rusli. y & cs-nya parah… penipu smuanya… hati-hati !!! jangan sekali-kali meminjamkan kartu kredit anda terhadap mereka. AKAN DIKURAS HABIS sisa pagu limit kartu kredit, tanpa sepengetahuan anda. Tolong di sebar luaskan demi kepentingan bersama.

  12. RUSLI 22 September 2012 pada 09:37 #

    HATI HATI PENIPUAN TERHADAP JASA PENUTUPAN KARTU KREDIT ….!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: