Panda dan Tragedi di Komisi Hukum

12 Okt

foto:okezone

Tumben-tumbenan Jum’at sore itu, Pak Rigen nonton televisi. Maklum biasanya Pak Tua itu paling anti dengan siaran TV dalam negeri, baik sinetron maupun berita. ”Njelehi,” kata dia suatu saat.

Nah, kenapa sore itu dia mantengin TV? Rupanya dia terpaksa. Si Najma, -bidadari kecilku, yang minta dinyalain TV. Meski tak ditonton karena asyik bermain.

Duduk di Sofa yang baru saja saya beli, sambil menyeruput teh poci klangenannya, Pak Rigen menikmati berita sore itu. Hingga pada suatu tayangan, tiba-tiba dia keselek. ”Waladala,’ suaranye kenceng mengagetkan Najma yang sedang belajar membaca.

Berita rapat dengar pendapat Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat dengan jajaran pimpinan KPK lah penyebabnya. Bagi Pak Rigen, yang menjadi soal adalah hadirnya Panda Nababan dalam raker tersebut. KPK bulan lalu baru saja menetapkan politikus PDIP itu sebagai tersangka dalam kasus cek pelawat.

Pak Rigen tak habis pikir, bagaimana mungkin Panda boleh menghadiri raker dengan lembaga yang telah menetapkannya sebagai tersangka.

Belum sempat ucapannya berhenti, si penyiar berita yang belepotan tata bahasanya itu mengabarkan; Rapat dengar pendapat antara Komisi III DPR dengan KPK jadi ajang pembelaan bagi Panda Nababan.

Tayangan kemarahan Panda berulang kali ditampilkan.
Begini nih salah satu protes Panda; “Ini sudah menjadi pembunuhan karakter. Anak saya menangis saat berdebat dengan dosennya. Lalu, relasi bisnis saya sudah tidak mau mengangkat telepon karena takut disadap,” kata Panda.

Berlanjut kemudian protes dari rekan satu fraksi Panda, Gayus Lumbuun.
“KPK mencari popularitas, jangan mentang-mentang KPK bisa melakukan apa saja. Kalo SP3 dilarang, jangan mengorbankan karakter orang lain,” kata Gayus.

Pak Rigen makin jengkel, ”Politikus gak tahu malu,” teriak dia.

”Lho Pak, kan statusnya belum punya kekuatan hukum tetap. Sah saja kan dia jadi ikut raker,” aku mencoba mendebat.

Bukannya mereda, Pak Rigen malah makin emosi.
”Keblinger. Ya mestinya kan kalau sudah status tersangka kan non aktif. Minimal tidak mengikuti Raker dengan KPK. Kalau tetap boleh ikut. Jadinya ya seperti yang di TV itu. Membantai KPK. Menyalahkan KPK. Menyerang pimpinan KPK. Lha kok teman satu fraksi malah ikut membela. Ini kan kayak balas dendam saja. Ini baru satu, Panda yang jadi tersangka. Lha kalau di komisi tiga ada separuh yang berstatus tersangka oleh KPK, Apa kata dunia,” seperti biasa setelah ngomong nggladrah, Pak Tua alias Pak Rigen ngeloyor ke perempatan.

Selamat malam kawan.
Selamat berisstirahat.
Salam Bhatik

Waroeng Bhatik

2 Tanggapan to “Panda dan Tragedi di Komisi Hukum”

  1. cahe dewe 12 Oktober 2010 pada 23:05 #

    apa hubungannya dengan waroengbatik? panda tak pakai batik kok….:)

  2. waroengbhatik 13 Oktober 2010 pada 11:03 #

    Siap salah Ndan… heheheh…lagi blajar ki ojo diguyu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: